Tentang Jaminan Hari Tua BPJS Ketenagakerjaan

Setiap akhir Maret, saya selalu menerima laporan informasi saldo Jaminan Hari Tua (JHT) yang dikelola oleh BPJS Ketenagakerjaan. Dalam laporan terakhir yang saya terima, saldo JHT milik saya sampai akhir 2015 tercatat senilai Rp9,49 juta.

Dana sebesar itu merupakan hasil pengumpulan iuran yang setiap bulan dibayarkan oleh perusahaan tempat saya bekerja. Besarnya iuran adalah 5,7% dari upah alias gaji pokok ditambah tunjangan tetap. Sebanyak 3,7% ditanggung oleh perusahaan, dan sisanya 2% dipotong dari gaji saya. Ketika gaji naik, secara otomatis jumlah iuran akan naik.

Saldo yang saya miliki memang tidak terlalu banyak, karena baru dimulai sejak 15 Oktober 2013, ketika saya diangkat sebagai pegawai tetap. Sebelumnya, saya tidak pernah memiliki rekening JHT. Semakin hari, jika saya terus bekerja, dana iuran akan terus bertambah, maka rekening JHT pun akan terus berkembang.

Dana JHT akan tetap utuh ketika saya, misalnya, berpindah kerja ke perusahaan lain atau memutuskan berwirausaha, atau malah berhenti bekerja sama sekali. Sebab, rekening JHT ditulis atas nama saya pribadi, bukan atas nama perusahaan.

Apa sih untungnya punya rekening JHT?  Seorang yang saya kenal baik pernah mengeluhkan gajinya yang dipotong untuk ini-itu, termasuk JHT. Dia menilai potongan ini hanya membebani saja, dan mengurangi gaji yang seharusnya bisa dibawa pulang.

Baca lebih lanjut

Iklan

Pengalaman Tes IELTS di Jakarta

Hampir dua bulan blog ini tidak ter-update. Si pengelola blog, yang tak lain tak bukan adalah saya sendiri, belakangan sedang riweuh dengan persiapan tes bahasa Inggris, diseling dengan sembilan hari piknik.

Sabtu (19/3), tes IELTS telah berlalu, akhirnya! Badan dan pikiran juga sudah cukup beristirahat, saatnya mulai ngeblog lagi. Tapi, sebelum kembali menulis soal finansial, saya terlebih dahulu ingin membagi pengalaman menjalani tes IELTS berikut persiapannya.

Saya memilih venue tes di Indonesia Australia Language Foundation (IALF) yang beralamat di Plaza Kuningan, Jl H.R. Rasuna Said, Jakarta. Bersebelahan dengan kompleks Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia. Sederetan dengan gedung KPK. Alasan memilih IALF karena jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya di Palmerah.

Tes dimulai pukul 09.00, tapi panitia meminta para peserta tes datang sebelum pukul 07.30. Hari itu, peserta tes berjumlah 115 orang, melebihi kapasitas ruangan yang idealnya digunakan oleh 100 orang. Mungkin pengaruh musim bukaan beasiswa, sehingga peminat tes IELTS melonjak. IALF menyelenggarakan dua kali tes dalam sepekan, setiap Kamis dan Sabtu.

Pukul 07.30, seorang petugas meminta para peserta tes untuk berbaris. Kami, para peserta, diminta menitipkan seluruh barang bawaan dan hanya membawa pensil, penghapus, pulpen, serta KTP atau paspor. Air putih dalam kemasan botol transparan diizinkan dibawa masuk.

Jaket tidak dianjurkan dipakai ke ruang tes. Jam tangan harus ditanggalkan. Alasannya, “karena jam tangan sekarang canggih-canggih, bisa buat apa saja. Selain itu, jam tangan tidak boleh dibawa ke ruang ujian karena khawatir ada perbedaan waktu dengan jam yang menjadi acuan, sehingga nanti peserta bingung.”

Baca lebih lanjut

Seperti Jodoh, Memilih Asuransi juga Tak Boleh Sembarangan

lorenso3

Sabtu petang menjelang Maghrib, akhir pekan kemarin, saya mempelajari polis asuransi milik Chabib, sambil mengunyah pizza tipis dengan tambahan keju ekstra. Dalam waktu kurang dari 30 menit, saya telah berhasil meyakinkan teman saya itu untuk membatalkan kontrak polis asuransi yang dibelinya.

Saya termasuk orang yang merasa asuransi penting. Saya membeli produk asuransi, dan dalam berbagai kesempatan mengajak teman-teman terdekat saya untuk berasuransi. Lalu mengapa saya meminta Chabib membatalkan polis asuransinya?

Alasan pertama dan paling utama adalah Chabib salah memilih produk asuransi. Dia membeli produk asuransi yang belum dibutuhkannya saat ini, dan justru melewatkan produk yang sangat dibutuhkan.

Chabib mengaku membutuhkan produk asuransi kesehatan, untuk berjaga-jaga jika tiba-tiba sakit dan harus berobat ke dokter atau bahkan dirawat di rumah sakit. Namun, produk asuransi yang dibelinya justru asuransi jiwa dengan tambahan proteksi untuk risiko penyakit kritis.

Menurut berbagai referensi yang saya percayai, asuransi jiwa adalah produk yang cocok untuk kepala keluarga atau pencari nafkah utama dalam keluarga. Tujuan membeli produk ini adalah untuk memberikan proteksi kepada keluarga yang ditinggalkan jika kepala keluarga atau pencari nafkah utama meninggal dunia. Ketika pemegang polis asuransi jiwa meninggal dunia, maka keluarga yang ditinggalkan akan mendapatkan uang klaim asuransi jiwa, sehingga tidak terlunta-lunta.

Jika merujuk pada keterangan itu, maka Chabib bukan termasuk kategori orang yang membutuhkan produk asuransi jiwa. Dia belum menikah—meskipun mengaku bukan jomblo—dan tidak memiliki tanggungan keluarga yang harus dibiayai.

Selain asuransi jiwa, ternyata Chabib juga membeli proteksi tambahan (dalam dunia asuransi diistilahkan dengan rider) berupa asuransi penyakit kritis. Saat saya tanya kenapa dia membeli asuransi penyakit kritis, dia mengaku tidak terlalu paham. “Kata CS ini bisa digunakan untuk rawat inap,” katanya.

Memang, dalam polis disebutkan bahwa nilai klaim untuk rawat inap adalah Rp500.000 perhari, dengan batas maksimal masa opname yang ditentukan. Namun tidak ada penjelasan secara detail bahwa biaya rawat inap itu baru akan diberikan jika pemegang polis menderita penyakit kritis, bukan penyakit ‘biasa’ semacam batuk, pilek, demam, atau tipes.

Apa itu penyakit kritis? Setiap perusahaan asuransi memiliki definisi berbeda-beda mengenai definisi dan kriteria penyakit kritis.

Dalam salah satu kesempatan launching produk asuransi penyakit kritis beberapa waktu lalu, saya sempat bertanya mengenai definisi dan kriteria penyakit kritis kepada dokter spesialis yang menjadi konsultan ahli salah satu perusahaan asuransi. Jawaban dokter itu membuat saya cukup terhenyak.

Menurut sang dokter, di antara jenis penyakit yang masuk dalam kriteria penyakit kritis adalah jantung koroner, stroke, gagal ginjal, dan kanker. Artinya, jika pemegang polis asuransi penyakit kritis mengalami sakit dan harus dirawat di rumah sakit namun bukan disebabkan oleh salah satu dari empat penyakit itu, maka dia tidak bisa mengajukan klaim kepada perusahaan asuransi. Alias dia harus membayar biaya rumah sakit dari kantong pribadi.

Pun, jika pemegang polis asuransi penyakit kritis terpaksa opname akibat salah satu dari keempat penyakit itu, tidak serta merta klaim dapat diajukan. Sebab, setiap perusahaan asuransi punya kriteria sendiri untuk menentukan apakah penyakit yang diderita oleh pemegang polis benar-benar telah memasuki fase “kritis” sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh perusahaan asuransi.

Ketika, misalnya, seorang pemegang polis menderita gagal ginjal tetapi hanya pada satu ginjal sedangkan ginjal satunya lagi masih bisa berfungsi baik, maka harus dipastikan apakah kondisi ini sudah masuk dalam kriteria penyakit kritis menurut definisi perusahaan asuransi.

Demikian pula, ketika seorang pemegang polis menderita kanker namun baru masuk stadium 1 atau 2, atau bahkan 3, belum tentu kondisi itu sudah termasuk dalam kategori penyakit kritis menurut perusahaan asuransi.

Sayangnya, penjelasan lengkap dan detail mengenai hal ini seringkali tidak didapatkan oleh calon nasabah. Tenaga pemasar asuransi, entah dengan alasan apa, tidak menjelaskan produk secara detail sampai calon nasabah benar-benar paham.

Contoh nyatanya ya Chabib, teman saya itu. Dia tidak menyangka jika polis asuransinya hanya memproteksi risiko penyakit kritis, karena pada saat membeli, tenaga penjual tidak menjelaskan secara detail. Chabib hanya diberitahu bahwa “(asuransi) ini bisa digunakan untuk rawat inap”, tanpa dijelaskan lebih lanjut bahwa rawat inap yang dimaksud adalah rawat inap akibat penyakit kritis.

Saya meyakini ada banyak sekali nasabah atau calon nasabah asuransi yang mengalami kondisi serupa dengan Chabib: tidak mendapatkan informasi yang jelas dan tuntas. Akibatnya, salah beli produk, dan merasa kecewa ketika akhirnya gagal mengajukan klaim atau klaim tidak dibayar.

Menurut aturan yang berlaku, setiap tenaga pemasar produk asuransi diwajibkan mendapatkan lisensi. Tujuannya, untuk memastikan mereka benar-benar memahami produk yang dijual dan mampu memberikan informasi yang tepat kepada calon nasabah. Namun pada kenyataannya, calon nasabah seringkali masih belum mendapatkan haknya menerima informasi yang dibutuhkan.

Di sini lah letak pentingnya bersikap kritis. Teliti sebelum membeli. Jangan mudah percaya dan mengiyakan apapun yang dikatakan tenaga pemasar.

Jika mau sedikit repot, carilah informasi yang dapat diakses secara gratis melalui mesin pencari. Sesederhana mengetik kata kunci “asuransi penyakit kritis”, lalu Google akan mengarahkan kita ke informasi terkait penyakit kritis dalam ruang lingkup asuransi.

Beberapa di antaranya:

  1. https://www.cigna.co.id/id/html/html/produk-cigna/asuransi-penyakit-kritis/cigna-critical-illness-protection.html
  2. https://www.aig.co.id/personal/kecelakaan-diri-kesehatan/critical-care
  3. http://www.cimbsunlife.co.id/id/critical-illness-series-id
  4. http://www.asuransi-jiwa.org/produk-allianz/manfaat-tambahan-rider/asuransi-49-penyakit-kritis-ci-dan-ci/

Sekali lagi, jangan pernah lelah mencari informasi, agar produk asuransi yang kita beli benar-benar bermanfaat.

xxxxxxxxx

Update dari Chabib. Ternyata teman saya itu berubah pikiran, berselang tak lebih dari 24 jam sejak dia menyatakan akan membatalkan polis asuransinya.

“Eh”

“Aku rasido batalke lho”

“Wkwkwkwk”

“……..”

“Heheheh… Sori ya. Aku galau,” katanya.

Baiklaaaahhhhh………. #akurapopo

Jaminan Pensiun Bukan Cuma Buat PNS

lorenso1

Saya menabung di reksadana saham senilai Rp300.000 perbulan untuk mempersiapkan masa pensiun sekitar 25 tahun lagi.

Dana pensiun merupakan salah satu prioritas yang saya persiapkan sejak sekarang. Alasannya, saya ingin tetap mandiri hingga tua nanti, tidak ingin merepotkan orang lain. Jika saya bisa mandiri secara finansial, maka hari tua saya akan lebih produktif untuk mengerjakan hal-hal lain karena tidak lagi khawatir mengenai kebutuhan pokok.

Dulu saya berpikir tunjangan pensiun hanyalah fasilitas yang dimiliki oleh pegawai negeri sipil (PNS). Pemikiran yang sama juga dimiliki oleh orangtua saya, yang dulu sempat meminta saya mendaftar sebagai PNS agar mendapatkan jaminan pensiun.

Ternyata saya salah, karena jaminan pensiun bukan cuma milik PNS. Siapapun bisa meyiapkan dana pensiun, asalkan mau disiplin menyisihkan dana sejak masih muda.

Baca lebih lanjut

Tips Memahami Polis Asuransi Unitlinked

Produk asuransi bukanlah produk sederhana. Apalagi unitlinked, ketika asuransi digabung dengan investasi. Ribetnya bertambah jadi dua kali. Anda benar-benar harus berhati-hati. Telitilah sebelum membeli.

Memang, biasanya sales asuransi punya seribu satu cara untuk membujuk calon nasabah. Dalam kondisi terlena, bukan tidak mungkin kita akan “iya-iya” saja saat ditawari untuk membeli produk asuransi. Tapi jangan khawatir, masih ada kesempatan untuk mempertimbangkan keputusan dengan lebih matang.

Menurut aturan yang berlaku, calon nasabah memiliki waktu untuk berpikir selama 14 hari kerja sebelum masa aktif polis berlaku. Waktu berpikir atau waiting period itu dihitung sejak nasabah menerima berkas polis yang dikirimkan oleh perusahaan asuransi.

Jadi, masih ada waktu bagi calon nasabah untuk berpikir dan meneliti dengan seksama polis asuransi yang berisi perjanjian antara kedua belah pihak yakni nasabah dan perusahaan asuransi. Di sinilah sebenarnya fase terpenting yang sangat menentukan.

Perlu usaha ekstra untuk membaca polis asuransi. Bahasa yang digunakan umumnya ‘mbulet’ dan sangat teknis, khas bahasa kontrak perjanjian perdata. Kontrak polis juga biasanya tebal, berlembar-lembar, bikin puyeng duluan sebelum dibaca.

Tapi jangan buru-buru menyerah, karena kontrak polis memang harus dibaca baik-baik. Tidak bisa tidak. Agar tidak terlalu pusing, ada triknya kok.

Baca lebih lanjut

Asuransi Unitlinked, Teliti Sebelum Membeli

Jangan mudah percaya pada tawaran sales asuransi, apalagi bila produk yang ditawarkan adalah asuransi berbalut investasi alias unitlinked. Jangan pula mudah tergiur dengan informasi yang tertera dalam brosur, karena seringkali apa yang digambarkan tidak sesuai kenyataan.

Belum lama ini, media sosial sempat diramaikan oleh pemberitaan mengenai seorang nasabah asuransi unitlinked yang merasa dirugikan hingga puluhan juta rupiah. Pasalnya, nilai investasi yang didapatkan tidak sesuai dengan ‘perjanjian’ awal.

Benarkah nasabah asuransi unitlinked ini ditipu?

Baca lebih lanjut

BPJS Kesehatan Untung Rp13,4 Triliun?

Beberapa hari lalu saya tertarik mengomentari status seseorang yang dibagikan oleh teman saya di Facebook. Tentang BPJS Kesehatan. Awalnya, di kolom komentar, saya ingin mendebat secara serius poin-poin yang disampaikan, tapi minat saya langsung hilang ketika si Bapak Penulis Status menyebut BPJS dengan PT BPJS. If you know what I mean…. 😀

Ada beberapa poin yang diuraikan, intinya sih dia tidak bersedia ikut program asuransi kesehatan nasional itu. Masalahnya, poin-poin yang dia sampaikan itu salah kaprah. Saya jadi tergerak untuk membahasnya di sini, bukan di kolom komentar Facebook yang terbatas. Semoga bisa membantu meluruskan beberapa fakta yang disalahpahami dan terlanjur disebarluaskan ke orang banyak.

Baca lebih lanjut